Bisnis katering di Indonesia sangat bergantung pada siklus musim dan referral. Ramadan dan akhir tahun ramai, pertengahan tahun sepi. Klien datang dari yang pernah mencicipi masakan Anda di acara teman, atau dari rekomendasi WO yang sudah kenalan lama. Tidak ada yang salah dengan referral β tapi kalau itu satu-satunya sumber klien, bisnis Anda sepenuhnya bergantung pada hal yang tidak bisa Anda kendalikan.
Artikel ini membahas cara membangun sumber klien baru yang aktif dan bisa dikontrol β tanpa harus bergantung pada siapa yang kebetulan cerita ke siapa.
Siapa yang Paling Sering Butuh Katering?
Bukan sekadar “siapapun yang punya acara”. Ada beberapa segmen yang volume kebutuhannya lebih tinggi dan lebih terprediksi:
Perusahaan dan kantor. Rapat direksi, training karyawan, gathering tahunan, makan siang reguler β kantor dengan 20+ karyawan hampir selalu butuh katering beberapa kali per bulan. Ini klien repeater yang nilainya sangat tinggi karena tidak hanya satu acara.
Klinik, sekolah, dan institusi. Rapat orang tua murid, acara wisuda, atau gathering staff klinik β ini acara yang terjadwal dan sering berulang setiap tahun. Kalau sekali puas, kemungkinan besar mereka balik lagi untuk acara berikutnya.
UMKM yang punya acara launching atau gathering. Restoran yang buka cabang baru, salon yang anniversary, toko yang grand opening β semua butuh konsumsi acara. Bisnis yang established (50+ review di Maps) punya kapasitas untuk acara semacam ini.
Wedding Organizer dan Event Organizer. Ini channel yang sudah banyak diincar katering lain, tapi masih worth untuk digarap karena volume per relasi WO/EO bisa sangat tinggi kalau relationship sudah terbentuk.
Cara Kumpulkan Database Target dengan Google Maps
Untuk target perusahaan dan kantor: scrape Google Maps dengan keyword “kantor” atau nama industri spesifik (misalnya “perusahaan teknologi”, “kantor konsultan”, “klinik”) untuk kota target Anda. Filter yang sudah established (20+ review) sebagai prioritas karena mereka lebih mungkin punya anggaran untuk acara.
Untuk sekolah dan institusi: “sekolah”, “SD”, “SMP”, “SMA”, “kampus” β semua ada di Google Maps dan hampir semua punya acara tahunan yang butuh konsumsi.
Dengan Alanova, proses scraping ini selesai dalam 20β30 menit per keyword dan kota. Hasilnya: ratusan kontak bisnis dengan nomor WA tervalidasi, siap untuk outreach.
Pesan Pertama yang Tepat untuk Setiap Segmen
Pesan ke kantor dan ke sekolah harus berbeda β kebutuhan dan language mereka tidak sama.
Untuk kantor: “Halo Pak/Bu [nama kantor], saya [nama] dari [nama katering]. Kami spesialis katering untuk acara korporat dan makan siang reguler di [kota] β sudah handle 40+ perusahaan aktif. Ada paket khusus untuk order rutin dengan harga yang jauh lebih efisien dari pesan per acara. Boleh saya kirimkan menu dan price list?”
Untuk sekolah: “Halo Bapak/Ibu [nama sekolah], saya [nama] dari [katering]. Kami sering handle konsumsi untuk acara sekolah seperti wisuda, perpisahan, dan gathering orang tua di [kota]. Ada paket yang bisa disesuaikan dengan anggaran dan jumlah tamu. Untuk acara yang akan datang, boleh saya bantu hitung estimasi biayanya?”
Timing Outreach yang Tepat untuk Katering
Katering punya seasonality yang kuat, dan timing outreach yang tepat bisa melipatgandakan respons rate.
Untuk acara akhir tahun (gathering perusahaan, acara perpisahan sekolah): mulai outreach di bulan OktoberβNovember. Banyak perusahaan dan sekolah sudah mulai planning acara akhir tahun di periode ini tapi belum commit ke vendor.
Untuk Ramadan (buka puasa bersama dan sahur bersama): mulai outreach 6β8 minggu sebelum Ramadan dimulai. Perusahaan yang punya tradisi buka puasa bersama biasanya booking katering jauh-jauh hari untuk memastikan ketersediaan.
Untuk klien regular (makan siang kantor, rapat bulanan): outreach kapanpun, tapi respons lebih tinggi di awal kuartal ketika budget planning sedang aktif.
Membangun Klien Reguler, Bukan Hanya Klien Per Acara
Satu kantor yang order makan siang setiap hari nilainya jauh lebih besar dari puluhan klien yang pesan untuk satu acara masing-masing. Arahkan strategi outreach untuk mendapatkan klien regular, bukan hanya satu kali.
Setelah closing satu klien untuk satu acara: selalu tanyakan apakah ada kebutuhan katering reguler. Tawarkan paket bulanan atau mingguan dengan harga yang lebih menguntungkan untuk mereka (dan volume yang lebih terprediksi untuk Anda). Ini yang mengubah bisnis katering dari feast-or-famine menjadi pendapatan yang lebih stabil.
Database dari Google Maps yang dikumpulkan via Alanova memberikan Anda ratusan target potensial per kota. Dari sana, sistem follow up yang konsisten adalah yang membedakan katering yang pipelinenya selalu penuh dengan yang terus menunggu referral datang.
Testimoni dan Portofolio: Aset Terpenting untuk Katering
Di industri katering, kepercayaan adalah segalanya. Orang tidak beli makanan dari yang tidak mereka kenal atau percaya β terutama untuk acara penting seperti pernikahan atau gathering perusahaan di mana tidak ada kesempatan untuk “salah pilih”.
Investasi terpenting yang bisa dilakukan paralel dengan prospecting: kumpulkan testimoni dan foto dari setiap acara yang sudah dikerjakan. Minta izin klien untuk share foto makanan dan testimonial di media sosial atau WhatsApp. Satu foto piring makanan yang ditata bagus dengan testimonial singkat dari klien corporate adalah materi yang sangat powerful untuk dilampirkan di follow up setelah pesan pertama.
Pesan kedua yang berisi “Pak/Bu, ini foto dari acara [nama perusahaan] yang kami handle bulan lalu β 150 pax, menu [X], feedback sangat positif. Kalau tertarik diskusi untuk acara [nama target], saya siap bantu.” β itu jauh lebih meyakinkan dari pesan pertama tanpa bukti apapun. Portofolio yang dibangun dengan konsisten adalah aset yang nilainya terus tumbuh setiap acara yang berhasil dikerjakan.
Katering yang tumbuh konsisten bukan yang paling pandai masak saja β tapi yang paling sistematis dalam mengisi pipeline. Mulai dengan satu segmen target (misalnya kantor di kota Anda), bangun 20β30 kontak minggu pertama via Alanova, blast dengan pesan yang sudah dipersonalisasi, dan follow up yang konsisten. Dari sana, scale ke segmen berikutnya berdasarkan apa yang berhasil di segmen pertama.